Tiga Bekal Menapaki Kehidupan: Istiqamah, Tawakal, dan Istighfar
Tiga Bekal Menapaki Kehidupan: Istiqamah,
Tawakal, dan Istighfar
Khutbah
Jumat di Musholla KH Ahmad Dahlan Denpasar Ajak Jamaah Memperkuat Fondasi Iman
Denpasar – Di tengah derasnya arus
kehidupan yang sering menghadirkan kegembiraan sekaligus kesedihan,
keberhasilan maupun ujian, umat Islam diingatkan untuk memiliki bekal ruhani
yang kokoh agar tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan zaman.
Pesan
itulah yang mengemuka dalam Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz
Sunardi di Musholla KH Ahmad Dahlan, Jalan Batanta No. 80, Denpasar,
Jumat (12/6/2026). Bertindak sebagai imam salat Jumat adalah Ustadz Anshori.
Dalam
khutbahnya, Ustadz Sunardi mengajak jamaah untuk merenungkan hakikat kehidupan
dunia yang tidak pernah lepas dari ujian dan dinamika. Menurutnya, setiap
manusia akan mengalami pergantian keadaan; hari ini mungkin dipenuhi
kebahagiaan, namun esok bisa saja datang kesedihan. Karena itu, seorang mukmin
memerlukan pegangan yang kuat agar tetap teguh dalam segala situasi.
"Keimanan
bukan sekadar identitas yang tertulis di kartu penduduk. Keimanan harus hidup
dalam hati, membimbing pikiran, dan mewarnai seluruh perilaku," ujarnya.
Istiqamah: Keteguhan di Jalan Allah
Tema utama
khutbah menyoroti pentingnya istiqamah, yaitu konsistensi dalam
menjalankan perintah Allah dan menjaga kemurnian akidah.
Mengutip
sabda Rasulullah SAW kepada Sufyan bin Abdullah, khatib menjelaskan bahwa inti
ajaran Islam yang paling mendasar adalah keyakinan kepada Allah yang kemudian
diwujudkan dalam sikap istiqamah.
"Katakanlah,
aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah," demikian pesan Rasulullah yang
menjadi landasan keteguhan seorang mukmin.
Menurut
Ustadz Sunardi, istiqamah bukan hanya tentang menjaga ibadah ritual, tetapi
juga mempertahankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah
berbagai pengaruh yang dapat melemahkan keyakinan, umat Islam dituntut untuk
tetap teguh memegang prinsip dan tidak mudah tergoda oleh kepentingan duniawi.
Ia juga
mengingatkan firman Allah dalam Surah Fussilat ayat 30 yang menjelaskan bahwa
orang-orang yang beriman dan istiqamah akan mendapatkan ketenangan serta
perlindungan dari para malaikat.
"Orang
yang istiqamah tidak pernah berjalan sendirian. Allah mengutus malaikat-Nya
untuk menguatkan hati dan menjaga langkah mereka," tuturnya.
Tawakal: Bersandar kepada Allah Setelah Berikhtiar
Bekal kedua
yang ditekankan dalam khutbah adalah tawakal, yaitu sikap berserah diri
kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik.
Dalam
kehidupan modern yang penuh persaingan, manusia sering tergesa-gesa mengambil
keputusan tanpa pertimbangan yang matang. Padahal Islam mengajarkan
kehati-hatian, kebijaksanaan, dan kemampuan berpikir jauh ke depan.
Khatib
mengingatkan pentingnya mengendalikan ucapan dan tindakan agar tidak
menimbulkan mudarat bagi diri sendiri maupun orang lain.
"Berpikirlah
sebelum berbicara, dan pertimbangkanlah sebelum bertindak," pesan Ustadz Sunardi.
Ia mengutip
sebuah hikmah yang mengajarkan agar seseorang tidak tergesa-gesa mengucapkan
sesuatu sebelum memikirkan dampaknya. Sebab setiap kata dan perbuatan akan
dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Dalam
bagian ini, khatib juga menyampaikan pesan Malaikat Jibril kepada Rasulullah
SAW tentang tiga kepastian hidup manusia: setiap manusia pasti akan meninggal
dunia, pasti akan berpisah dengan apa yang dicintainya, dan pasti akan dimintai
pertanggungjawaban atas seluruh amal perbuatannya.
Pesan
tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan
sementara menuju kehidupan yang abadi.
Istighfar: Jalan Kembali kepada Allah
Bekal
ketiga yang menjadi penutup khutbah adalah istighfar, yakni memohon
ampun dan kembali kepada Allah SWT.
Menurut
Ustadz Sunardi, manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Karena
itu, istighfar tidak boleh hanya menjadi lafaz yang diucapkan oleh lisan,
tetapi harus menjadi kesadaran yang lahir dari hati yang tulus untuk
memperbaiki diri.
Mengutip
kisah Nabi Hud AS dalam Al-Qur'an, ia menjelaskan bahwa istighfar merupakan
jalan untuk memperoleh rahmat, keberkahan, dan pertolongan Allah.
"Istighfar
adalah jembatan yang menghubungkan kelemahan manusia dengan kasih sayang Allah
yang tidak pernah terbatas," ujarnya.
Melalui
istighfar, seorang mukmin diajak untuk terus mengevaluasi dirinya, mengakui
kekurangannya, dan memperbarui tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Menjadi Muslim yang Kokoh
Khutbah
Jumat di Musholla KH Ahmad Dahlan pagi itu berlangsung dalam suasana khidmat.
Jamaah tampak menyimak setiap pesan yang disampaikan dengan penuh perhatian.
Di tengah
tantangan kehidupan yang semakin kompleks, khutbah tersebut menghadirkan
pengingat sederhana namun mendalam bahwa kekuatan seorang muslim tidak terletak
pada harta, jabatan, ataupun popularitas, melainkan pada kedekatannya dengan
Allah SWT.
Istiqamah
menjaga arah perjalanan hidup. Tawakal menenangkan hati dalam menghadapi
ketidakpastian. Sedangkan istighfar membersihkan jiwa dari kesalahan dan dosa.
Ketiga
amalan itulah yang menjadi bekal utama untuk menapaki kehidupan dunia sekaligus
mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan akhirat.
(RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



