Tiga Pegangan Hidup Farida Hanum: Dari Majelis Ilmu Menuju Jalan Keteguhan
Tiga
Pegangan Hidup Farida Hanum: Dari Majelis Ilmu Menuju Jalan Keteguhan
Denpasar —
Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang kerap mengaburkan arah, sebuah
refleksi jernih datang dari Farida Hanum. Dalam sebuah forum kajian yang
diikutinya bersama Ustadz Kunaidi, ia merumuskan tiga pegangan hidup yang kini
menjadi fondasi dalam perjalanan pribadinya: iman, ilmu, dan istiqamah.
“Hidup ini
tidak cukup hanya dijalani, tetapi harus dituntun oleh nilai yang benar,” ungkap Farida, membuka
perenungan yang sarat makna.
Iman sebagai Poros Kehidupan
Pegangan
pertama yang ia teguhkan adalah iman. Menurutnya, iman adalah pusat dari
seluruh keputusan dan sikap hidup. Tanpa iman, manusia mudah goyah dan
kehilangan arah.
Dalam
Al-Qur’an disebutkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah, maka hatinya akan
diberi petunjuk. Pesan ini menjadi dasar bahwa iman bukan sekadar keyakinan,
melainkan kekuatan batin yang menuntun langkah dalam setiap keadaan.
“Iman harus
hidup dalam tindakan, bukan hanya diucapkan,” tegasnya.
Ilmu sebagai Penuntun Jalan
Pegangan
kedua adalah ilmu. Dari kajian yang ia ikuti, Farida menyadari bahwa ilmu
adalah cahaya yang membedakan antara kebenaran dan kesalahan.
Dalam hadis
Nabi disebutkan bahwa siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, maka akan
dimudahkan jalannya menuju kebaikan. Bagi Farida, ini bukan sekadar janji,
tetapi realitas yang ia rasakan.
“Ilmu itu
bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk membimbing kita agar tidak tersesat dalam
kehidupan,” ujarnya.
Ia
menekankan bahwa ilmu harus diamalkan, karena tanpa praktik, ilmu hanya menjadi
beban, bukan petunjuk.
Istiqamah sebagai Kunci Keteguhan
Pegangan
ketiga adalah istiqamah, yaitu konsistensi dalam menjalankan kebaikan. Ia
menilai bahwa menjaga amal jauh lebih sulit daripada memulainya.
Dalam
ajaran Nabi disebutkan bahwa amalan yang paling dicintai adalah yang dilakukan
secara terus-menerus, meskipun kecil. Prinsip ini menjadi pengingat bahwa ketekunan
lebih bernilai daripada semangat yang hanya sesaat.
“Kita tidak
dituntut sempurna, tetapi dituntut untuk terus berjalan dalam kebaikan,” katanya.
Dari Kajian Menuju Laku Kehidupan
Tiga
pegangan ini bukan sekadar teori, melainkan hasil perenungan dari proses
belajar yang terus berlangsung. Farida menegaskan bahwa kajian yang diikuti
harus mampu mengubah cara hidup, bukan hanya menambah pengetahuan.
Dalam
semangat yang juga tercermin pada sosok seperti Chef Alit, nilai-nilai
spiritual tidak berhenti di ruang kajian, tetapi hadir dalam tindakan nyata dan
keseharian.
Iman
menguatkan hati, ilmu menerangi jalan, dan istiqamah menjaga langkah.
Refleksi
ini menjadi pengingat bahwa di tengah kompleksitas zaman, manusia tetap
membutuhkan pegangan yang kokoh. Dan dari sebuah majelis ilmu, lahirlah prinsip
hidup yang sederhana namun mendalam—menjadi kompas menuju kehidupan yang lebih
bermakna. (RAYD)



