Tiga Pilar Kemanusiaan di Balik Posko Bersama: Donatur, Relawan, dan Masyarakat
Tiga Pilar Kemanusiaan di Balik Posko Bersama: Donatur, Relawan, dan Masyarakat
Di bawah langit Bali yang perlahan kembali cerah pasca banjir besar 10 September 2025, semangat kemanusiaan tetap menyala di antara reruntuhan dan lumpur yang tersisa. Di tengah suasana pemulihan itu, Posko Bersama menggelar acara penyerahan Sertifikat dan Apresiasi Donatur, sebuah simbol penghargaan bagi mereka yang telah menjadi bagian dari denyut nadi kemanusiaan.
Tiga Pilar Penggerak Kebaikan
Dalam sambutannya, H. Imam Asrorie, Ketua Posko Bersama sekaligus perwakilan Laziswaf ICMI Bali, menyampaikan bahwa kekuatan utama gerakan sosial ini bertumpu pada tiga pilar kemanusiaan:
Para Donatur, yang menjadi sumber daya dan energi yang menghidupkan setiap langkah;
Para Relawan dan Posko Bersama, yang menjadi jembatan tangan-tangan kasih;
Masyarakat Terdampak, yang menjadi ruh, inspirasi, dan tujuan dari seluruh pengabdian.
Tiga pilar ini membentuk jalinan yang kokoh — sebuah harmoni yang menegaskan bahwa kemanusiaan tidak pernah berdiri sendiri.
Para Donatur: Jiwa yang Menghidupkan Gerakan
Pemberian sertifikat kepada para donatur bukan sekadar seremoni, tetapi pengakuan bahwa tanpa kehadiran mereka, roda kemanusiaan tidak akan berputar seindah ini.
Di antara deretan nama yang menerima penghargaan terdapat sosok-sosok yang telah menyalakan api kepedulian di saat-saat paling gelap:
Dr. Dadang Hermawan, yang dengan keikhlasan menanggung seluruh konsumsi kegiatan penutupan posko, meski berhalangan hadir secara langsung.
Dr. Zakaria Adam, Sp.OG
PT Brilian Multi Kreasi Indonesia (EO)
H. Hendra Bekti
H. Rully Soripada (Sarana Dewata)
MTP IPHI Provinsi Bali
Bu Hj. Dewi Sinaryati, S.E.
LANTIPDA Indonesia
Bpk. H. Henk Kusumawardana
Wanita Islam Provinsi Bali – Bu Hj. Sri Widiastuti
FPSI (Forum Pemerhati Sejarah Islam Indonesia) – Bpk. H. Junaedi
Laziswaf ICMI Bali – H. Imam Asrorie
Suara Umat – Bu Hj. Nining
RM Bundo Kanduang – H. Muslim
Merekalah yang telah menyalurkan bukan hanya harta, melainkan juga rasa, waktu, dan kepedulian—membuktikan bahwa derma tidak selalu tentang jumlah, tetapi tentang jiwa.
Dari Kepanikan Menjadi Gerakan
Posko Bersama lahir dari ruang kecil diskusi antara Ahmad Khanafi, Sekretaris ICMI Bali, dan H. Imam Asrorie, Ketua Laziswaf ICMI Bali. Di tengah kepanikan pasca banjir, muncul gagasan untuk membentuk pusat koordinasi yang cepat, tepat, dan berpihak kepada korban.
Dukungan datang dari berbagai ormas: Forum Pemerhati Sejarah Islam (H. Junaedi), LANTIPDA (H. Henk Kusumawardana), MTP IPHI (Hj. Dewi Sinaryati), Wanita Islam (Hj. Sri Widyastuti), Suara Umat (Hj. Nining), dan RM Bundo Kanduang (H. Muslim).
Kerja mereka tanpa pamrih — menelusuri setiap sudut terdampak, mendata korban, membagikan sembako, pakaian, dan kasih sayang.
Jalinan yang Tak Berakhir
Sebagaimana disampaikan oleh H. Imam Asrorie, kegiatan ini bukanlah penutupan, melainkan transformasi.
Posko Bersama kini berlanjut dan berkolaborasi dengan Team Arjuna 115, sebuah tim SAR pemerintah, di mana H. Imam Asrorie dan Lantio Yayuk ditetapkan sebagai peserta kehormatan.
Melalui penandatanganan Management of Understanding (MoU), jalinan kemanusiaan ini semakin sempurna — menjadi perpanjangan tangan kasih para donatur, yang hartanya adalah titipan Tuhan untuk membantu sesama manusia di kala bencana datang.
Refleksi Akhir
Acara penghargaan itu ditutup dengan suasana haru dan bangga. Di mata para relawan, donatur, dan warga yang hadir, tampak keyakinan yang sama: bahwa kebaikan tidak akan pernah padam, hanya berganti bentuk.
Posko Bersama bukan sekadar tempat, tetapi sebuah semangat yang akan terus hidup — selama masih ada manusia yang peduli terhadap manusia lainnya. (RAYD) donasi PT. MEDIA SUARA UMAT. Bank BSI.7326712967



