Detail Artikel

TragediTragedi Berdarah di Tejakula: Ketika Arak Bali Menyulut Nyawa Seperti Selaq Be Guling Terpanggang Bara Emosi

TragediTragedi Berdarah di Tejakula: Ketika Arak Bali Menyulut Nyawa Seperti Selaq Be Guling Terpanggang Bara Emosi

Buleleng, 19 Juni 2025 – Sebuah tragedi mengenaskan mengguncang Banjar Dinas Kelodan, Desa Madenan, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Gede Boy (49), seorang petani, tega menghabisi nyawa temannya sendiri, Nyoman Sukasna alias Nyoman Kana, dalam kondisi mabuk akibat mengonsumsi arak Bali.

Layaknya proses memasak selaq be guling—hidangan babi guling khas Buleleng yang penuh bumbu dan melalui pemanggangan perlahan—emosi pelaku dipicu perlahan oleh alkohol, hingga akhirnya meledak menjadi bara kemarahan mematikan.

Kejadian berdarah ini terjadi pada Rabu, 18 Juni 2025, ketika korban datang berkunjung ke rumah pelaku di sore hari sebelumnya. Situasi yang awalnya hanya kumpul santai, seperti menanak lawar klungah yang penuh rasa dan keakraban, berubah menjadi mencekam.

Diduga kuat, pertengkaran kecil saat mabuk menjadi pemantik utama, seperti cabe rawit dalam sambal matah yang tampak kecil namun membakar lidah. Gede Boy, yang sehari-hari dikenal sebagai petani tenang, berubah brutal. Ia menghunus pisau pengutik sepanjang 20 cm ke tubuh korban—senjata tajam yang seharusnya untuk kebun, kini malah menamatkan nyawa.

AKP Gede Darma Diatmika, Kasi Humas Polres Buleleng, membenarkan kejadian ini. “Diduga kuat pemicu utamanya adalah pengaruh arak Bali. Alkohol menjadi bara dalam konflik emosional yang tidak terkontrol,” ungkapnya.

Insiden ini mengingatkan kita bahwa meski arak Bali adalah bagian dari budaya dan sering hadir dalam ritual atau jamuan, konsumsi yang tidak bijak bisa menjadikannya racun sosial. Seperti sambal embe—lezat namun bisa sangat pedas—arak Bali harus dinikmati dengan kendali, bukan dijadikan pemicu konflik.

Kini, Gede Boy harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum, dan masyarakat Buleleng kembali diingatkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan pengendalian diri jauh lebih penting daripada pelampiasan emosi sesaat.

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'