“Tua Bukan Alasan Berhenti: Spirit Lantipda Gianyar Menyalakan Asa di Usia Senja”
“Tua Bukan Alasan Berhenti: Spirit Lantipda Gianyar Menyalakan
Asa di Usia Senja”
Gianyar — Dalam suasana penuh kehangatan dan
semangat kebersamaan, peringatan HUT
ke-1 Lantipda Kabupaten Gianyar yang dirangkaikan dengan Hari Kartini tidak hanya menjadi
seremoni, tetapi juga panggung gagasan dan refleksi mendalam tentang makna
usia, pengabdian, dan keberdayaan.
Dalam
sambutannya, Ketua Lantipda
Gianyar, L. Wayan Lasia, menyampaikan pesan yang menggugah
sekaligus menggelitik, membuka suasana dengan sentuhan humor yang humanis,
sebelum membawa hadirin pada refleksi yang lebih dalam. Ia menegaskan bahwa perjalanan satu tahun Lantipda bukan
sekadar hitungan waktu, melainkan perjalanan jiwa yang terus bertumbuh.
Dengan
mengusung tema “Spirit
Kartini Inspirasi Lansia Kamani Ing Dumadi”, Lasia menekankan
bahwa semangat Kartini bukan hanya milik generasi muda, tetapi juga menjadi api yang menghidupkan para lansia untuk
tetap berkarya dan bermakna.
“Masa
tua bukan masa untuk diam, tetapi masa untuk tetap ada dan berguna di tengah
kehidupan,” tegasnya.
Ia
menguraikan bahwa tema bukan sekadar slogan, melainkan “roh” organisasi, sementara
kegiatan adalah “badan” yang menghidupkannya. Keduanya, menurutnya, harus
berjalan selaras.
“Tema
tanpa kegiatan hanya menjadi kata-kata, dan kegiatan tanpa tema kehilangan
arah. Di sinilah kita hidup, bergerak, dan memberi arti,” ujarnya dengan penuh penekanan.
Dalam satu
tahun perjalanannya, Lantipda Gianyar telah menunjukkan dinamika yang aktif dan
progresif. Berbagai kegiatan digelar secara konsisten, mulai dari latihan yoga, kegiatan musik melalui Kamani
Band, bakti sosial rutin, hingga aktivitas budaya dan kunjungan komunitas.
Semua ini menjadi bukti bahwa usia
bukan penghalang untuk tetap produktif.
Lasia
bahkan mengibaratkan organisasi ini seperti bayi yang baru berusia satu tahun,
namun telah mampu “berlari”.
“Walaupun
baru satu tahun, tetapi bayi ini sudah bisa berjalan cepat. Yang menggendongnya
adalah semangat dan kebersamaan kita,” ungkapnya.
Lebih jauh,
ia menekankan filosofi hidup yang menjadi pegangan Lantipda:
“Kita
memilih menjadi tua yang disegani, bukan tua yang dilayani.”
Kalimat
tersebut disambut antusias, menjadi refleksi tajam bahwa martabat di usia senja ditentukan oleh
pilihan untuk tetap aktif, bukan pasif.
Dalam nada
yang lebih tegas, ia juga menyampaikan pesan yang sarat makna:
“Tua
itu pasti, tetapi loyo itu pilihan.”
Pernyataan
ini menjadi semacam deklarasi semangat bahwa lansia tetap memiliki ruang untuk berdaya, berkarya, dan
memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menutup
sambutannya, Lasia kembali menegaskan identitas Lantip sebagai organisasi yang
hidup dalam nilai:
“Lantip
adalah lancar, aktif, dan peduli.”
Melalui
peringatan HUT perdananya, Lantipda Gianyar tidak hanya merayakan usia, tetapi
juga meneguhkan arah perjuangan. Dalam balutan semangat Kartini, organisasi ini
menghadirkan wajah lansia yang berani
tampil, tetap berkarya, dan terus memberi makna bagi kehidupan sosial.
Sebuah
pesan kuat pun mengemuka: usia boleh menua, tetapi semangat harus tetap
menyala.(RAYD+AMBAR)



