Detail Artikel

tukang masak muda dan profesi yang tergantikan

Tukang Masak Muda dan Profesi yang Tergantikan

Di perempatan jalan, seorang siswa SMK kuliner duduk di atas Vespa keluaran terbaru, menunggu lampu hijau. Seragamnya lengkap bak super chef—dasi merah, baju putih dengan garis-garis endek khas Bali, dan celana kotak-kotak khas chef hotel. Di lengannya terselip pisau kecil, padahal kantong itu seharusnya untuk termometer suhu makanan.

Teringat 35 tahun yang lalu, aku pernah ada di posisinya. Bangga. Termotivasi. Semangat menggebu. Tapi ada satu hal yang mengganjal di benakku—baju cook yang seharusnya suci dan bersih, kini melaju di jalanan, terkena debu dan asap kendaraan. Kami dulu diajarkan bahwa seragam ini bukan sekadar pakaian, tapi simbol tanggung jawab.

Jika para chef yang melayani tamu sehat harus menjaga kebersihan, maka seharusnya mereka yang merawat orang sakit lebih berhati-hati dengan pakaian mereka. Tapi dunia berubah, profesi pun bergeser. Sekarang, tukang masak tidak hanya bertugas di dapur, tetapi juga berperan dalam tren, branding, dan pencitraan.

Tapi satu hal yang tak berubah—memasak adalah bentuk penyampaian cinta. Seorang chef adalah jembatan nutrisi kehidupan, perantara kesehatan jasmani dan rohani. Namun, tukang masak sejati tetaplah ibu kita, yang tanpa sorotan lampu dapur mewah, tanpa seragam rapi, selalu menyajikan hidangan penuh kasih sayang.

Seperti pepatah lama:
"Asam di gunung, garam di laut, bertemu di belanga."
Kerang yang kotor dan amis bisa menjadi hidangan lezat setelah dipertemukan dengan sahabat-sahabatnya—bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, laos, kunyit, dan lainnya.

Jadi, apapun perubahan yang terjadi, di meja makan, rasa tetap menjadi jembatan yang menghubungkan kita semua.

Selamat makan.(Raden Alit)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'