Usnanik Lelono Wati: Dari Ruang Kelas, Menjaga Cahaya Pendidikan Islam di Pulau Dewata
Usnanik Lelono Wati: Dari Ruang
Kelas, Menjaga Cahaya Pendidikan Islam di Pulau Dewata
Empat Dekade Mengabdi, dari Guru
TK hingga Memimpin YPBWI Perwakilan Bali
DENPASAR, SuaraUmat.id — Ada orang-orang yang
perjalanan hidupnya tidak dibangun oleh gemerlap jabatan, melainkan oleh
kesetiaan pada pengabdian. Mereka hadir di ruang-ruang sederhana, mendampingi
anak-anak tumbuh, menanamkan nilai, lalu perlahan menjadi bagian dari sejarah sebuah
lembaga.
Sosok itu adalah Usnanik Lelono Wati.
Lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa
Tengah, pada 31 Mei 1961, Usnanik menapaki dunia pendidikan sejak usia
muda. Puluhan tahun hidupnya kemudian diabdikan untuk pendidikan anak usia
dini—sebuah dunia yang menuntut bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kesabaran,
keteladanan, kasih sayang, dan keteguhan hati.
Perjalanan pengabdiannya dimulai pada 1 Maret
1982, ketika ia dipercaya menjadi guru TK Pertiwi Salatiga, Jawa Tengah.
Selama lebih dari satu dekade, ia mendampingi anak-anak di masa paling awal
kehidupan pendidikan mereka.
Namun, perjalanan itu kemudian membawanya ke Pulau
Dewata.
Dari Salatiga ke Denpasar
Pada 1 Oktober 1993, Usnanik mulai
mengabdikan diri sebagai guru di TK Bakti 2 Denpasar, Bali. Sejak saat
itu, ruang kelas TK Bakti menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Hampir tiga dekade ia berada di sana.
Selama 27 tahun lebih, Usnanik mendidik dan
mendampingi anak-anak di TK Bakti 2 Denpasar hingga memasuki masa pensiun pada
31 Mei 2021.
Panjang masa pengabdian tersebut menjadikannya
bukan sekadar seorang guru, tetapi juga saksi hidup perjalanan pendidikan YPBWI
di Bali. Ia menyaksikan bagaimana lembaga pendidikan yang dibangun dengan
keterbatasan perlahan tumbuh, berbenah, dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Dari balik meja guru, ia melihat generasi demi
generasi datang dan pergi. Anak-anak yang dahulu belajar mengenal huruf, angka,
doa, dan adab, kemudian tumbuh melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Di situlah makna pengabdian seorang guru menemukan
bentuknya: apa yang ditanam hari ini mungkin baru terlihat hasilnya
bertahun-tahun kemudian.
Pensiun dari PNS, Bukan Berarti
Berhenti Mengabdi
Pada 1 Juni 2021, Usnanik memasuki masa
pensiun sebagai aparatur sipil negara. Secara administratif, satu babak
pengabdian sebagai guru PNS berakhir.
Namun, bagi Usnanik, pensiun bukanlah titik.
Ia justru memasuki fase pengabdian yang berbeda.
Kepercayaan kemudian diberikan kepadanya untuk
memimpin Yayasan Pendidikan Bakti Wanita Islam (YPBWI) Perwakilan Bali.
Dalam periode 2022–2027, Usnanik dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua
YPBWI Perwakilan Bali.
Peralihan dari ruang kelas ke ruang kepemimpinan
membuat pengalaman panjangnya sebagai pendidik menjadi modal penting dalam
mengelola yayasan.
Ia tidak datang sebagai pemimpin yang asing dengan
dunia pendidikan. Ia pernah berdiri di depan kelas, berhadapan langsung dengan
anak-anak, memahami dinamika guru, merasakan kebutuhan sekolah, serta
menyaksikan dari dekat bagaimana sebuah lembaga pendidikan tumbuh melalui
proses panjang.
Karena itu, kepemimpinannya memiliki pijakan
pengalaman yang kuat: memimpin bukan sekadar mengatur lembaga, tetapi
memahami denyut kehidupan orang-orang yang berada di dalamnya.
Menjaga Amanah Pendidikan Islam
di Bali
Di bawah perjalanan panjang YPBWI Bali, pendidikan
Islam tidak hanya berbicara tentang gedung sekolah dan proses belajar mengajar.
Ia juga berbicara tentang bagaimana menghadirkan pendidikan yang mampu
membentuk anak menjadi manusia berilmu sekaligus berakhlak.
Usnanik menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.
Di tengah masyarakat Bali yang memiliki karakter
sosial dan keberagaman yang khas, lembaga pendidikan YPBWI terus berupaya
menghadirkan pendidikan Islam bagi anak-anak usia dini sekaligus membangun
hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar.
Bagi seorang pendidik, keberhasilan bukan hanya
ketika seorang anak mampu membaca dan berhitung, tetapi ketika ilmu yang
diperolehnya tumbuh menjadi akhlak dalam kehidupannya.
Nilai itulah yang menjadi ruh panjang perjalanan
Usnanik di dunia pendidikan.
Pengabdian yang Berbuah
Penghargaan
Dedikasi panjang tersebut akhirnya mendapat
pengakuan dalam momentum Harlah ke-60 YPBWI.
Usnanik Lelono Wati, S.Pd.I. berhasil meraih Juara
I Nasional Lomba Video Profil Inspiratif. Prestasi tersebut sekaligus
menempatkan YPBWI Perwakilan Bali sebagai salah satu perwakilan yang menonjol
dalam rangkaian kegiatan Harlah ke-60 YPBWI.
Penghargaan itu terasa semakin bermakna karena
karya yang dibawanya tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat cerita panjang
tentang perjalanan YPBWI Bali—tentang pendidikan, guru, anak-anak,
keterbatasan, perjuangan, dan harapan.
Juara I bukan sekadar penghargaan atas sebuah
video. Ia menjadi pengakuan terhadap perjalanan panjang pengabdian YPBWI Bali
dalam membangun pendidikan anak usia dini.
Bagi Usnanik sendiri, penghargaan tersebut dapat
dibaca sebagai penghormatan kepada seluruh guru dan keluarga besar YPBWI yang
selama bertahun-tahun bekerja dalam senyap.
Dari Guru Menjadi Penjaga
Estafet
Kini, setelah lebih dari empat dekade bersentuhan
dengan dunia pendidikan, perjalanan Usnanik memasuki babak yang berbeda.
Ia tidak lagi setiap hari berdiri di depan kelas
seperti dahulu. Namun, amanah yang dipikulnya sebagai Ketua YPBWI Perwakilan
Bali membuat tugas mendidik tetap menjadi bagian dari kehidupannya.
Jika dahulu ia menanamkan nilai kepada anak-anak
secara langsung di ruang kelas, kini ia memiliki tanggung jawab yang lebih
luas: menjaga agar sekolah-sekolah YPBWI tetap menjadi ruang tumbuh bagi
generasi yang berilmu, beriman, mandiri, dan berakhlakul karimah.
Perjalanan Usnanik mengajarkan satu hal penting: pengabdian
tidak mengenal kata pensiun.
Seorang guru mungkin berhenti menerima tugas
mengajar karena usia, tetapi nilai-nilai yang telah ditanamkan tidak pernah
berhenti tumbuh.
Dan seorang pendidik yang telah menghabiskan
sebagian besar hidupnya untuk anak-anak, pada akhirnya bukan hanya meninggalkan
kenangan di sekolah, tetapi meninggalkan jejak pada generasi.
Dari Ambarawa, Salatiga, hingga Denpasar,
perjalanan Usnanik Lelono Wati adalah kisah tentang kesetiaan pada pendidikan.
Empat dekade lebih mengabdi, dari seorang guru di
ruang kelas hingga dipercaya memimpin YPBWI Perwakilan Bali—sebuah perjalanan
yang menunjukkan bahwa ketika pendidikan dijalankan sebagai amanah, pengabdian
akan menemukan maknanya melampaui batas usia dan jabatan.(RAYD)
Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



