Detail Artikel

Ustaz H. Makarim: Meraih Surga Bersama Keluarga Dimulai dari Keteladanan di Rumah

Ustaz H. Makarim: Meraih Surga Bersama Keluarga Dimulai dari Keteladanan di Rumah

DENPASAR — Karpet merah yang semula membisu telah dipenuhi saf-saf. Percakapan yang sebelumnya berserak di antara kelompok-kelompok kecil perlahan surut, berganti dengan perhatian yang tertuju ke depan.

Ahad (20/9/2026) pagi, kegiatan kajian Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Denpasar memasuki sesi utama. Setelah rangkaian pembukaan dan sambutan, hadirin menyimak tausiah yang disampaikan Ustaz H. Makarim Makawi dengan tema “Meraih Surga Bersama Keluarga.”

Ketika Al-Qur'an Dibacakan, Dengarkan dengan Hati

Ustaz H. Makarim membuka tausiah dengan mengingatkan hadirin tentang pentingnya kesungguhan ketika mendengarkan Al-Qur'an.

Menurutnya, ketika ayat-ayat Allah dibacakan, seorang Muslim semestinya memberikan perhatian. Sebab Al-Qur'an bukan sekadar bacaan yang dilantunkan, melainkan pesan Allah kepada manusia.

Ia mengutip pesan yang terkandung dalam Al-Qur'an agar manusia mendengarkan dengan baik sehingga memperoleh rahmat Allah.

Dari sana, Makarim kemudian membawa hadirin pada sebuah kesadaran yang lebih mendasar: manusia tidak masuk surga semata-mata karena amalnya, melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah.

Karena itu, amal bukan alasan untuk merasa telah selesai. Amal adalah jalan untuk mengetuk pintu rahmat-Nya.

Namun ada ironi yang ia soroti. Ketika seseorang sedang mendengarkan tausiah, perhatian justru dapat terpecah oleh percakapan atau telepon genggam.

Dengan gaya yang cair dan sesekali diselingi humor, Makarim mengajak peserta memeriksa kembali kualitas perhatian mereka.

Bukan sekadar, “Apakah saya hadir?”

Tetapi:

“Apakah hati saya juga hadir?”

Anak Belajar dari Apa yang Dilihat

Pesan tentang telepon genggam kemudian ia hubungkan dengan pendidikan keluarga.

Makarim mengingatkan para orang tua bahwa anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat yang mereka dengar. Mereka juga belajar dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.

Jika orang tua meminta anak mengurangi penggunaan telepon genggam, sementara orang tua sendiri tidak pernah melepaskan gawai, pesan pendidikan itu menjadi tidak utuh.

Keteladanan menjadi bahasa pendidikan yang paling awal.

Apa yang dilakukan ayah dan ibu di rumah dapat menjadi sesuatu yang diam-diam direkam anak.

Karena itu, pendidikan keluarga tidak selalu membutuhkan kalimat-kalimat panjang. Kadang ia hadir melalui contoh yang sederhana: bagaimana orang tua berbicara, bagaimana menghormati orang lain, bagaimana beribadah, bagaimana menggunakan teknologi, dan bagaimana menghadapi persoalan.

Surga yang Tidak Ingin Dimasuki Sendirian

Kemudian sampailah tausiah pada tema utama: meraih surga bersama keluarga.

Makarim mengajak hadirin membayangkan surga bukan sebagai tujuan individual semata.

Ada gambaran tentang keluarga yang berkumpul di dalamnya: orang tua, pasangan, anak-anak, dan keturunan.

Dalam penjelasannya, ia mengaitkan hal tersebut dengan ayat Al-Qur'an yang menggambarkan pertemuan keluarga di surga.

Pesannya jelas: tugas orang tua bukan sekadar memastikan anak-anak mendapatkan kehidupan dunia yang baik. Ada amanah yang lebih jauh—membimbing mereka menuju kehidupan akhirat.

Seorang ayah, misalnya, bukan hanya bertugas mencari nafkah, menyediakan makanan, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga.

Ada tugas lain yang tidak kalah penting: menjadi pemimpin spiritual keluarga.

Mengajak keluarga mengenal Allah.

Membiasakan ibadah.

Menanamkan ketakwaan.

Dan mendidik anak-anak agar menjauhi kemaksiatan.

Dengan demikian, rumah bukan sekadar tempat pulang setelah aktivitas seharian. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak-anak.

Ayah Bukan Sekadar Pencari Nafkah

Dalam tausiah itu, Makarim memberikan penekanan kepada para ayah.

Peran seorang ayah tidak selesai ketika kebutuhan ekonomi keluarga telah terpenuhi.

Ada amanah kepemimpinan yang melekat di dalam keluarga.

Seorang ayah dituntut menjadi teladan sekaligus pembimbing.

Ia bukan hanya membawa makanan ke meja makan, tetapi juga membawa nilai ke dalam rumah.

Bukan hanya memastikan anak tumbuh secara fisik, tetapi juga memastikan iman dan akhlaknya mendapatkan perhatian.

Sebab jika orang tua ingin kelak berkumpul bersama anak-anaknya di surga, maka perjuangan itu dimulai sejak anak masih berada di rumah.

Anak yang Mendoakan Orang Tuanya

Salah satu bagian tausiah yang paling menyentuh adalah ketika Makarim berbicara mengenai hubungan amal anak dengan orang tua.

Ia menggambarkan bagaimana seorang anak yang saleh terus mendoakan kedua orang tuanya.

Doa seorang anak dapat menjadi bagian dari kebaikan yang terus mengalir kepada orang tua.

Gambaran itu membawa hadirin pada sebuah renungan sederhana:

Anak seperti apa yang sedang kita persiapkan?

Apakah hanya anak yang berhasil secara akademik?

Apakah hanya anak yang kelak mendapatkan pekerjaan yang baik?

Ataukah anak yang ketika orang tuanya telah tiada masih mengingatnya dalam doa?

Di situlah pendidikan keluarga menemukan makna yang lebih dalam.

Keberhasilan pendidikan tidak selalu selesai ketika anak memperoleh ijazah. Ada keberhasilan yang baru terlihat ketika seorang anak dewasa masih membawa doa, akhlak, dan nilai-nilai yang ditanamkan orang tuanya.

Mengajar Anak Zaman Sekarang Tidak Bisa dengan Cara Kemarin

Sebagai pendidik, Makarim kemudian membawa pembicaraan ke persoalan yang sangat dekat dengan para peserta kajian: perubahan generasi.

Ia mengajak para guru membandingkan cara mendidik anak-anak pada masa lalu dengan anak-anak masa kini.

Jawabannya sederhana: berbeda.

Pengalaman generasi terdahulu tidak bisa begitu saja dipindahkan seluruhnya kepada generasi sekarang.

Makarim mengisahkan pengalaman masa sekolahnya, ketika teknologi belum seperti sekarang. Ia mengenang masa ketika sarana belajar masih sederhana dan dunia anak belum dikepung oleh internet dan media sosial.

Kemudian zaman berubah.

Muncul generasi yang tumbuh bersama internet. Disusul generasi yang akrab dengan media sosial, telepon pintar, dan berbagai perangkat digital.

Perubahan itu membawa konsekuensi pada cara anak berpikir, berinteraksi, belajar, dan memperoleh informasi.

Karena itu, orang tua dan guru perlu memahami zaman anak-anak yang sedang mereka didik.

Bukan berarti semua perkembangan harus diterima begitu saja.

Tetapi cara menyampaikan nilai harus mampu menjangkau dunia anak.

Berdakwah dengan Hikmah

Pada bagian akhir transkrip yang tersedia, Makarim mengarahkan hadirin pada prinsip dakwah yang bersumber dari Al-Qur'an, yakni mengajak manusia menuju jalan Allah dengan hikmah dan cara yang baik.

Bagi dunia pendidikan, pesan ini terasa sangat relevan.

Mendidik tidak selalu berarti menakut-nakuti.

Mengajarkan agama tidak identik dengan membuat anak merasa tertekan.

Ada seni untuk membuat kebaikan terasa dekat, agama terasa menenteramkan, dan nasihat dapat diterima tanpa kehilangan maknanya.

Anak-anak perlu dibimbing, bukan sekadar diperintah.

Diberi teladan, bukan hanya diberi ceramah.

Diajak memahami, bukan hanya ditakut-takuti.

Karena pendidikan yang menyentuh hati akan lebih lama tinggal dibandingkan nasihat yang hanya berhenti di telinga.

Dari Sekolah, Pulang Membawa Pesan ke Rumah

Tausiah Ustaz H. Makarim pada akhirnya membawa satu pesan besar: jalan menuju surga keluarga dibangun bersama-sama.

Ayah memiliki tanggung jawab.

Ibu memiliki peran.

Anak-anak juga memiliki jalan pengabdian kepada orang tuanya.

Guru menjadi penguat pendidikan yang berlangsung di rumah.

Sekolah menjadi ruang untuk memperluas nilai yang telah ditanamkan keluarga.

Dan Muhammadiyah, melalui lembaga pendidikannya, memiliki ruang besar untuk mempertemukan semuanya.

Sebab membangun generasi tidak cukup hanya dengan membangun sekolah.

Ia membutuhkan keluarga yang hidup.

Keluarga yang saling mengingatkan.

Keluarga yang saling mendoakan.

Keluarga yang menjadikan agama bukan sekadar pengetahuan, melainkan jalan hidup.

Pagi itu, kajian tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana menjadi guru yang baik. Ia bergerak lebih jauh: bagaimana menjadi orang tua yang mampu mengantar keluarganya menuju surga.

Dan barangkali, di situlah makna paling dalam dari tema yang diusung pagi itu:

surga bukan hanya tempat yang ingin kita masuki seorang diri. Ia adalah tempat yang kita harapkan dapat menjadi tempat berkumpul kembali bersama orang-orang yang kita cintai. (RAYD)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'