Wakaf yang Menyatukan: Harmoni, Dakwah, dan Masa Depan Mushola Baitul Mu’minin Bali
Wakaf yang
Menyatukan: Harmoni, Dakwah, dan Masa Depan Mushola Baitul Mu’minin Bali
Denpasar —
Malam tasyakuran penutupan wakaf di lingkungan Yayasan Baitul Mu'miniin BKDI
Bali bukan sekadar seremoni. Ia menjelma menjadi refleksi perjalanan panjang,
sekaligus cermin kekuatan kolektif umat dalam merawat harapan.
Di sela
acara yang berlangsung khidmat itu, Ketua Yayasan, Mulyono, menyampaikan rasa
syukur yang mendalam. Baginya, malam tersebut adalah titik kulminasi dari kerja
bersama yang melibatkan banyak pihak—jamaah, relawan, hingga donatur lintas
daerah.
“Alhamdulillah,
ini nikmat yang harus kita syukuri bersama. Perjuangan setahun ini akhirnya
membuahkan hasil,” ujarnya dengan nada haru.
Dari Mushola Kecil Menuju Pusat Peradaban Umat
Mushola
Baitul Mu’minin bukanlah bangunan yang lahir dalam semalam. Berdiri sejak tahun
1986, awalnya hanya berupa bangunan sederhana berukuran sekitar 6x6 meter.
Namun seiring waktu, pertumbuhan komunitas Muslim di kawasan tersebut mendorong
pengembangan yang berkelanjutan.
Kini,
kompleks mushola telah berkembang dengan beberapa sertifikat tanah wakaf,
bangunan bertingkat, serta berbagai fasilitas penunjang kegiatan umat.
“Ini bukan
hanya tempat salat. Ini pusat aktivitas umat,” tegas Mulyono.
Lebih dari Ibadah: Fungsi Sosial yang Nyata
Peran
mushola melampaui fungsi ritual. Dalam praktiknya, ia menjadi pusat
pemberdayaan masyarakat. Berbagai program sosial telah berjalan, mulai dari
pasar murah, bantuan sembako, hingga layanan vaksinasi saat pandemi.
Salah satu
program yang menarik adalah “ATM Beras”—sebuah inisiatif distribusi pangan yang
dapat diakses tidak hanya oleh umat Muslim, tetapi juga masyarakat sekitar
lintas keyakinan.
“Yang
mengambil tidak hanya Muslim. Ini bentuk kepedulian kita untuk semua,”
jelasnya.
Di bidang
pendidikan, mushola juga mengelola Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dengan
sekitar 140 santri. Sementara jumlah jamaah aktif mencapai sekitar 200 orang
untuk salat lima waktu, dan melonjak hingga 1.500 jamaah saat Salat Jumat.
Dakwah dalam Bingkai Harmoni
Menariknya,
keberadaan mushola ini tumbuh dalam suasana harmoni dengan lingkungan sekitar.
Di tengah realitas Bali sebagai wilayah dengan keberagaman tinggi, pendekatan
komunikasi dan keterbukaan menjadi kunci.
Pengurus
secara aktif melibatkan tokoh masyarakat lokal, termasuk kepala lingkungan
(klian) dalam berbagai kegiatan. Bahkan dalam acara besar seperti tasyakuran,
mereka turut diundang sebagai bagian dari kebersamaan.
“Kami ingin
membangun kenyamanan bersama. Harmoni itu penting,” kata Mulyono.
Energi Majelis dan Kekuatan Jamaah
Salah satu
pilar kekuatan mushola ini adalah aktivitas majelis taklim yang rutin digelar
setiap pekan. Kajian-kajian tersebut tidak hanya memperkuat spiritualitas
jamaah, tetapi juga menjadi motor penggerak dalam berbagai program, termasuk
penggalangan dana wakaf.
“Majelis
taklim adalah yang paling semangat dalam setiap kegiatan,” ungkapnya.
Kegiatan
ini juga sering menghadirkan pemateri dari luar daerah, memperkaya wawasan
jamaah sekaligus memperluas jejaring dakwah.
Menatap Masa Depan dengan Konsolidasi
Sebagai
ketua yang baru menjabat sekitar enam bulan, Mulyono memilih fokus pada
penguatan internal organisasi. Konsolidasi menjadi langkah awal sebelum
melangkah lebih jauh.
“Kami akan
bahas bersama dalam rapat. Semua program harus lahir dari musyawarah,” ujarnya.
Pendekatan
kolektif ini dianggap penting, mengingat latar belakang pengurus yang beragam.
Dengan komunikasi yang terbuka, setiap persoalan diharapkan dapat diselesaikan
bersama tanpa menimbulkan gesekan.
Dakwah di Tanah Minoritas
Kesadaran
sebagai komunitas minoritas justru menjadi energi tersendiri. Prinsip menyama
braya—hidup rukun dan berdampingan—menjadi fondasi dalam menjalankan
aktivitas dakwah.
“Kita harus
terus membangun komunikasi, baik dengan pemerintah, masyarakat, maupun internal
yayasan,” tegas Mulyono.
Wakaf sebagai Titik Awal
Penutupan
penggalangan dana bukanlah akhir perjalanan. Justru dari sinilah babak baru
dimulai: pemanfaatan lahan, pengembangan fasilitas, dan perluasan peran mushola
dalam kehidupan umat.
Di tengah
tantangan dan keterbatasan, kisah Yayasan Baitul Mu'miniin BKDI Bali menjadi
bukti bahwa kekuatan iman, kolaborasi, dan ketulusan mampu melampaui segala
batas.
Sebuah
pelajaran bahwa dari mushola kecil, bisa tumbuh peradaban besar.
(Laporan:
Suara Umat.id | Denpasar) (AMBAR & RAYD)



