Wakili Wagub Giri Prasta di Hari Santri Bali, Gede Suralaga Ajak Santri Rawat Persatuan dan Jaga Keda
Wakili Wagub Giri Prasta di Hari Santri Bali, Gede Suralaga Ajak Santri Rawat Persatuan dan Jaga Kedamaian
Subberita 4 | SuaraUmat.id | Denpasar, Bali
Di tengah keberagaman masyarakat Pulau Dewata, persatuan tidak dibangun dengan menyeragamkan perbedaan, melainkan melalui kesediaan untuk saling menghormati dan bekerja sama. Pesan itulah yang mengemuka dalam sambutan Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, S.Sos., yang dibacakan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali, Gede Suralaga, pada peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pendopo Joglo Kalifa Nusantara, Denpasar, Sabtu (17/10/2026).
Mewakili Wakil Gubernur yang berhalangan hadir karena agenda lain, Gede Suralaga menyampaikan apresiasi Pemerintah Provinsi Bali atas terselenggaranya pengajian akbar dan dialog kiai-santri yang mempertemukan tokoh agama, pengasuh pesantren, santri, serta unsur organisasi kemasyarakatan Islam.
Dalam sambutan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali berharap kegiatan Hari Santri tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi ruang memperkuat silaturahmi, bertukar gagasan, dan merumuskan kontribusi nyata bagi umat, masyarakat, serta bangsa.
Berkhidmat kepada Umat, Mengabdi kepada Negeri
Mengacu pada tema kegiatan, “Santri Bersatu, Berkhidmat untuk Umat dan Negeri”, sambutan itu menekankan bahwa pengabdian santri memiliki dua dimensi yang saling berkaitan.
Berkhidmat kepada umat berarti menghadirkan manfaat melalui pendidikan, kegiatan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kehidupan keagamaan. Sementara itu, berkhidmat kepada negeri berarti ikut menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam konteks Bali, pesan tersebut memiliki arti penting. Masyarakat hidup dengan latar belakang tradisi, keyakinan, dan kebudayaan yang beragam. Keberagaman itu membutuhkan kesadaran bersama agar tidak menjadi sumber jarak sosial, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan yang damai.
Pesan yang disampaikan melalui sambutan tersebut menegaskan bahwa masyarakat tidak harus memiliki latar belakang yang sama untuk dapat hidup berdampingan. Sikap saling menghormati dan kemauan bekerja sama justru menjadi fondasi bagi terciptanya kehidupan bersama yang harmonis.
Bagi kalangan pesantren, nilai tersebut sejalan dengan ajaran tentang persaudaraan, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Ilmu agama tidak hanya membentuk hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga menuntun manusia dalam memperlakukan sesama dengan adil dan bermartabat.
Santri dan Pembangunan Bali Era Baru
Sambutan Wakil Gubernur Bali juga menghubungkan peran santri dengan arah pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Pembangunan Bali, sebagaimana dirujuk dalam sambutan, berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru. Kerangka pembangunan tersebut menempatkan keseimbangan antara dimensi material, kualitas manusia, kebudayaan, dan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari kemajuan daerah.
Dalam kerangka itu, santri diharapkan tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat.
Pesantren dapat mengambil peran melalui pendidikan, penguatan karakter, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara para santri dapat mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu menjawab persoalan zaman tanpa kehilangan akar keilmuan dan akhlaknya.
Perkembangan teknologi, misalnya, membuka peluang bagi santri untuk memperluas wawasan, mengembangkan keterampilan komunikasi, dan menyebarluaskan pengetahuan keagamaan secara bertanggung jawab. Namun, kemajuan itu tetap membutuhkan landasan etika agar teknologi digunakan untuk menghadirkan manfaat.
Dengan demikian, santri tidak ditempatkan di luar arus pembangunan. Mereka merupakan bagian dari sumber daya manusia yang dapat berkontribusi sesuai kemampuan, keahlian, dan bidang pengabdiannya.
Menjaga Bali Tetap Aman dan Damai
Bagian lain dari sambutan menyoroti pentingnya menjaga ketenangan dan keamanan di tengah situasi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) yang turut disinggung dalam acara tersebut.
Melalui sambutan itu, keluarga besar pesantren dan jaringan kiai-santri diajak membantu menyampaikan informasi yang menenangkan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Persoalan yang dihadapi bersama, menurut pesan sambutan tersebut, perlu disikapi melalui komunikasi dan kerja sama, bukan dengan saling menyalahkan.
Bali memiliki keterkaitan erat antara stabilitas sosial dan kehidupan ekonominya, terutama sektor pariwisata. Keamanan, ketenteraman, dan kenyamanan menjadi unsur penting bagi keberlangsungan aktivitas masyarakat serta kegiatan ekonomi daerah.
Karena itu, upaya menjaga kedamaian membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, termasuk tokoh agama, pengasuh pesantren, dan generasi muda.
Ajakan yang disampaikan bukan semata-mata agar masyarakat menghindari konflik, tetapi juga agar persoalan bersama disikapi secara bijaksana, melalui jalur yang baik, serta tidak berkembang menjadi tindakan anarkis.
Dalam masyarakat yang majemuk, ketenangan sosial tidak lahir dengan sendirinya. Ia membutuhkan komunikasi yang terbuka, kepercayaan, sikap saling menghargai, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas pertentangan.
Pesan untuk Santri: Belajar, Menjaga Akhlak, dan Berkarya
Menjelang akhir sambutan, Gede Suralaga membacakan pesan Wakil Gubernur Bali kepada para santri agar terus belajar, menjaga akhlak, menghormati guru, dan membuktikan nilai-nilai pendidikan melalui perilaku serta karya nyata.
Pesan tersebut menempatkan akhlak sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penguasaan ilmu. Kecakapan akademik dan keterampilan modern akan memiliki makna lebih besar apabila disertai tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.
Bagi santri, menghormati guru bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari pembentukan karakter. Demikian pula, belajar tidak hanya bertujuan memperoleh pengetahuan, tetapi juga menyiapkan diri agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, pesantren dituntut terus menjaga kedalaman tradisi keilmuannya sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kemampuan baru. Perpaduan keduanya dapat melahirkan generasi yang berakar kuat pada nilai-nilai agama, tetapi tetap mampu berinteraksi dengan dunia yang terus berkembang.
Menutup sambutan, Pemerintah Provinsi Bali menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Santri Nasional 2026. Harapannya, momentum tersebut memperkuat persatuan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperluas pengabdian santri kepada umat, bangsa, dan negara.
Dari Denpasar, pesan itu menemukan maknanya dalam kehidupan Bali yang majemuk: santri tidak hanya menjaga warisan keilmuan pesantren, tetapi juga ikut merawat kedamaian dan membangun masa depan bersama.
Sebab, pengabdian kepada negeri tidak selalu diwujudkan melalui panggung besar atau peristiwa bersejarah. Ia juga tumbuh melalui akhlak yang dijaga, ilmu yang diamalkan, perbedaan yang dihormati, dan tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama.
(RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



