Detail Artikel

Warna yang Menyembuhkan: Dari Luka Banjir Lahir Karya Anak Negeri

Warna yang Menyembuhkan: Dari Luka Banjir Lahir Karya Anak Negeri


Apakah karena counseling? Ataukah karena belaian kasih dan tawa yang menyapa lembut jiwa mereka?

Entahlah. Yang pasti, dari ruang sederhana di teras Hotel Ratu — tempat RM Bundo Kanduang berdiri — lahirlah karya-karya kecil yang menggetarkan hati: lukisan-lukisan anak-anak yang menjadi simbol bahwa hidup, betapapun porak-porandanya, selalu punya warna untuk disyukuri.


Anak-anak dari TK, SD, hingga SMP, duduk bersila atau selonjoran, sebagian berlari kecil sebelum kembali ke kertas putih mereka. Tangan-tangan mungil itu menari dengan krayon dan pensil warna, membentuk gunung, rumah, sungai, dan pelangi.

Warna-warna yang berpadu tanpa ragu, seolah mereka sedang menulis kembali kisah kehidupan dengan bahasa yang paling polos — bahasa harapan.


Karya yang Lahir dari Jiwa yang Pulih


Sesi konseling yang dibimbing dr. Rini Trisnowati beberapa saat sebelumnya ternyata bukan hanya menguatkan hati mereka, tetapi juga membuka kembali imajinasi yang sempat terkubur oleh trauma.

Ketika anak-anak diminta mengekspresikan diri lewat gambar, tak satu pun yang menolak. Ada yang menggambar dua, bahkan tiga karya — bukan karena diminta, melainkan karena mereka merasa senang.

“Mereka seperti menemukan kembali dirinya,” ucap dr. Rini dengan suara lembut. “Setiap warna yang mereka torehkan adalah tanda bahwa mereka telah berdamai dengan ketakutan.”


Goresan yang Berharga, Bukan Karena Indahnya


Para dermawan yang hadir dalam acara recovery mungkin tidak menilai keindahan teknis gambar-gambar itu. Mereka tidak melihat seberapa rapi garis, seberapa presisi bentuk, atau seberapa sempurna paduan warna.

Yang mereka lihat adalah siapa yang menggambar — anak-anak yang beberapa minggu lalu harus mengungsi, kehilangan buku, pakaian, bahkan tempat tidur.

Dan di situlah nilai sejati setiap lukisan itu.


Ketika sesi lelang dimulai, ruangan kecil itu berubah menjadi ladang berkah.

H. Roichan Mukhlia membuka kesempatan dengan membeli sebuah lukisan seharga seratus ribu rupiah.

Disusul para hadirin lainnya yang tanpa ragu mengangkat tangan, satu demi satu, membeli hasil karya anak-anak itu dengan harga yang terus naik.

Beberapa gambar bahkan terjual hingga seratus lima puluh ribu rupiah — bukan karena sempurna, tetapi karena menyimpan makna.


Ada yang membeli satu, ada pula yang membawa pulang tiga lukisan sekaligus. Dan saat lelang berakhir, tak ada satu pun karya yang tersisa.

Semua gambar habis terjual, semua anak tersenyum, dan semua hati bergetar.


Perdagangan yang Mulia


Di ujung acara, H. Imam Asrorie, Ketua Posko Bersama, menatap suasana dengan mata berkaca.

“Para dermawan hari ini sedang berniaga dengan Sang Pencipta,” ujarnya perlahan.

Kalimat itu menembus ruang, menyentuh nurani. Karena memang demikianlah adanya — mereka sedang berdagang bukan dengan uang, melainkan dengan kebaikan, dengan keikhlasan, dengan iman.


Anak-anak pulang membawa semangat baru. Para dermawan pulang membawa rasa syukur.

Dan Posko Bersama pun sekali lagi membuktikan, bahwa recovery bukan sekadar membangun kembali tembok yang runtuh, melainkan menumbuhkan jiwa-jiwa yang sempat terendam oleh duka.


Dari sebuah teras sederhana, dari warna-warna yang berani, dari tangan kecil yang percaya, lahir harapan besar: bahwa kemanusiaan akan selalu menemukan jalannya — bahkan di antara lumpur dan air mata.. (RAYD) Donasi MEDIA SUARA UMAT. Bank BSI.7326712967PT*

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'