Detail Artikel

Wilda: Pendidikan Bukan Hanya Membentuk Murid, tetapi Juga Mengajarkan Kita Menjadi Manusia

Wilda: Pendidikan Bukan Hanya Membentuk Murid, tetapi Juga Mengajarkan Kita Menjadi Manusia

Denpasar, 9 Agustus 2026 — Rangkaian Temu Guru Gembira ditutup dengan pesan yang menyentuh tentang makna pendidikan dan kemanusiaan. Dalam sambutan penutupan,Wilda Kumala Sari M.Psi.Psikolog  mengajak para guru untuk tidak hanya memikirkan bagaimana membentuk peserta didik menjadi manusia seutuhnya, tetapi juga berani melihat ke dalam diri sendiri: sudahkah kita sebagai pendidik benar-benar menjadi manusia yang mampu melihat, mendengar, berpikir, dan merasakan?

Mengawali sambutannya, Wilda bercerita tentang buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela yang pernah dibacanya ketika duduk di kelas 6 SD. Kisah tentang seorang anak yang dianggap bermasalah di sekolah tersebut justru memperlihatkan bagaimana pendekatan pendidikan yang penuh kesabaran dan penerimaan dapat mengubah cara seorang anak berkembang.

Bagi Wilda, sosok kepala sekolah dalam cerita tersebut meninggalkan pesan yang kuat tentang hakikat pendidikan.

“Orang itu punya mata tapi tidak bisa melihat. Orang punya telinga tapi tidak bisa mendengar. Orang punya hati tapi tidak bisa merasakan.”

Menurutnya, pendidikan pada hakikatnya adalah proses untuk membuat manusia mampu menggunakan seluruh potensi kemanusiaannya.

Mata untuk melihat keindahan, telinga untuk mendengar, pikiran untuk membedakan yang benar dan salah, serta hati untuk mengenali mana yang baik dan buruk.


Pendidikan Bukan Sekadar Soal Akademik

Wilda menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik dan penguasaan pengetahuan.

Sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan kecerdasan sosial dan emosional, sehingga peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kemampuan memahami orang lain, mengelola emosi, dan mengambil keputusan secara bijaksana.

Namun, ada satu refleksi yang kemudian ia arahkan kepada para guru.

“Kita sering fokus menjadikan murid sebagai manusia. Tetapi ternyata kita juga harus memulai dari diri sendiri.”

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pesan terdalam dalam sambutan Wilda.

Apakah kita sudah menyayangi diri sendiri? Apakah kita sudah mulai merasa gembira? Apakah kita sudah memfungsikan diri kita sebagai manusia?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terasa sangat relevan dengan semangat Temu Guru Gembira, yang selama tiga hari memberikan ruang bagi para guru untuk belajar, berbagi, berefleksi, dan memulihkan energi.


Guru Gembira, Energi yang Harus Dibagikan

Wilda mengapresiasi terselenggaranya kegiatan Temu Guru Gembira dan kolaborasi berbagai pihak yang memungkinkan kegiatan tersebut berlangsung.

Ia berharap kegembiraan yang ditemukan selama kegiatan tidak berhenti ketika para peserta meninggalkan tempat kegiatan.

“Harapan kami memang kita juga tidak hanya berhenti di sini. Semoga kegembiraan kemudian juga kita bisa kembali menjadi seorang manusia.”

Bagi Wilda, pengalaman selama kegiatan harus dibawa kembali ke lingkungan masing-masing.

Kegembiraan itu harus menular—kepada teman kerja, kepada peserta didik, kepada keluarga, bahkan kepada masyarakat yang lebih luas.

Guru juga dapat menggunakan ruang digital untuk mengampanyekan nilai-nilai positif tersebut.

Dengan demikian, Temu Guru Gembira bukan sekadar pertemuan selama tiga hari, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan kecil yang menyebarkan energi positif dari guru kepada lingkungan pendidikan dan masyarakat.


Dari Ruang Guru, Menuju Indonesia yang Lebih Manusiawi

Pesan Wilda memperluas makna dari istilah guru gembira. Gembira bukan sekadar tertawa atau mengikuti permainan, melainkan bagian dari upaya menjaga kemanusiaan seorang pendidik.

Guru yang mampu mengenali dirinya, menyayangi dirinya, mengelola emosinya, dan menemukan kembali kegembiraannya akan memiliki energi yang lebih baik untuk mendampingi peserta didik.

Karena itu, merawat guru pada akhirnya adalah bagian dari merawat pendidikan.

Dan ketika guru mampu membawa kegembiraan itu kembali ke sekolah, maka yang mendapatkan manfaat bukan hanya guru itu sendiri.

Ada murid yang akan merasakan, ada rekan kerja yang akan terpengaruh, ada sekolah yang akan berubah, dan pada akhirnya ada masyarakat yang ikut menerima dampaknya.

“Kembali Menjadi Manusia, Kembali Menjadi Guru yang Gembira.”

Pesan penutupan Wilda menjadi salah satu simpul penting dari perjalanan tiga hari Temu Guru Gembira di Bali: pendidikan yang baik tidak hanya membutuhkan kebijakan dan kompetensi, tetapi juga manusia-manusia yang mampu melihat, mendengar, berpikir, merasakan, dan menghadirkan kegembiraan bagi sesamanya. (RAYD)

 DONASI PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'