Detail Artikel

Wonder Women di Atas Bak Truk: Pejuang yang Tak Tergantikan

Wonder Women di Atas Bak Truk: Pejuang yang Tak Tergantikan

Pagi mulai menggeliat, siang beranjak naik, matahari tersenyum simpul melihat geliat anak cucu Adam. Di tengah hiruk-pikuk jalanan, sebuah mobil bak terbuka melaju perlahan. Di atasnya, molen pengaduk semen bergoyang seirama dengan jalanan, tangga kotor tapi kokoh bersandar di sisi bak, ember-ember semen bertumpuk, dan cetok-cetok teronggok di sudut, siap menjalankan tugasnya.

Aku mencoba menyalip dari kanan, tapi pandanganku terpaku pada dua wanita separuh baya yang duduk di belakang truk. Mereka mengangguk-angguk. Kupikir mereka sedang menyetujui sesuatu. Ternyata, kantuk akibat lelah telah menguasai mereka.

Mereka bukan sembarang pekerja. Mereka adalah Wonder Women, tulang punggung keluarga, pejuang di medan tempur konstruksi. Bukan duduk di meja kantor, bukan berhadapan dengan layar komputer, tapi bergelut dengan pasir, semen, kayu, paku, dan segala kerasnya kehidupan. Dari desa mereka datang, menuju medan pertempuran di Sanur, Nusa Dua, hingga bukit-bukit pembangunan.

Mereka bekerja tanpa cuti, tanpa kepastian pensiun, tanpa jaminan hari tua yang tenang. Ketika bangunan megah berdiri, hotel-hotel mewah selesai dibangun, siapa yang masih mengingat mereka?

Adakah pekerjaan yang lebih layak untuk mereka? Adakah hari libur yang benar-benar menyejahterakan? Adakah masa pensiun yang bisa membuat mereka tidur nyenyak, tanpa harus khawatir tentang esok hari?

Di antara gedung-gedung tinggi dan hotel berbintang, masih adakah tempat bagi mereka untuk menikmati hasil kerja kerasnya?

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'