Air Wudhu di Tengah Samudera Tirtha
-
Ditulis Oleh Gede Budarsa
Pilihan judul buku ini sungguh menarik, “Air Wudhu di Tengah Samudera Tirtha. Kebudayaan Masyarakat Islam Pegayaman”. Sebetulnya, Gede Budarsa (GB), tidak sekadar memaksudkan judul itu untuk mengulik perhatian pembaca. Sebagai penulis, GB hanya ingin menuturkan ragam kisah bagaimana air wudhu sebagai representasi simbolik umat Islam bisa berada di pusaran budaya dominan, Hindu dan Bali. Untuk tujuan itu, GB memulainya dengan sangat baik saat berhasil menggambarkan kebudayaan masyarakat Islam di Pegayaman. Dengan bertumpu penuh pada konsep Koentjaraningrat (2000), tiap labirin tujuh unsur kebudayaan dikupasnya satu persatu. Gaya etnografi khas “anak-anak antrop”, begitu kami para antropolog menyebut diri, kental terasa. Keterampilan ini hanya dapat dimiliki seorang etnografer jika ia benar-benar telah berhasil “mencium” bau keringat para informan di lapangan penelitian. Hasilnya, kedalaman dan sekaligus ketajaman narasi dapat tersingkap di balik realitas yang kompleks (INYS).

