Kata Penghulu
-
Ditulis Oleh H. Masruhan, S.Ag., M.Si.
RESENSI BUKU
Judul
Buku : KATA PENGHULU:
Problem Dan Solusi Hidup Berumah Tangga
Penulis : H. Masruhan,
S.Ag., M.Si.
Penerbit : PT. Info Suara
Ummat, Denpasar, Bali
Cetakan, Tahun Terbit: I, Mei 2017
Jumlah
Halaman : xii + 192 halaman
Mungkin masih teringat di pikiran kita, pada tahun
1992 pemerintah telah mencanangkan Hari Keluarga Nasional (Harganas), yang
kemudian dikenal sebagai Hari Keluarga.
Pencanangan tersebut, diyakini memiliki dasar pikir
yang kuat, mengingat begitu pentingnya posisi keluarga dalam membangun karakter
bangsa. Meskipun tidak banyak yang mengetahui hari penting itu dan tidak
menjadi hari libur nasional, paling tidak harapan untuk senantiasa memperhatikan
keluarga karena peran pentingnya dalam mencetak generasi bangsa, selalu
terdengung sepanjang harapan itu ada di seantero negeri ini.
Pemahaman apa
yang dapat kita ambil dari posisi penting keluarga itu? Keluarga adalah
komponen terkecil di masyarakat. Di dalam ruang-ruang pendidikan keluargalah,
meminjam istilah sosiologi, terjadi proses internalisasi nilai-nilai.
Pertanyaannya, keluarga yang bagaimanakah yang diidamkan dapat melakukan proses
luhur tersebut? Jawaban yang ideal tentunya adalah ‘keluarga yang sehat’. Pertama, sehat karena
memenuhi ketentuan legal atau tidaknya dimata agama dan perundang-undangan. Kedua, keluarga
bahagia yang di dalamnya penuh gelimang keberkahan dari Yang Maha Kuasa.
Menyadari
pentingnya hal itulah hadirnya buku “Kata Penghulu: Problem dan Solusi Hidup Berumah Tangga” yang
ditulis oleh H. Maruhan, S.Ag., M.Si., seorang Penghulu Madya di Kantor Urusan
Agama (KUA) Kecamatan Denpasar Barat, menjadi sangat penting.
Buku tersebut,
sebagaimana diakuinya, sesungguhnya merupakan catatan pengalaman Penulis dalam
menangani banyak kasus pernikahan dan rumah tangga. Sejalan dengan perjalanan
tugas (tour of duty) sang
Penulis di bidang kepenghuluan. Yakni sejak tahun 1996, direkruitmen untuk
posisi CPPN (Calon Pegawai Pencatat Nikah). Setelah itu ditugaskan sebagai
kepala KUA Kecamatan Mengwi dan kepala KUA Kecamatan Kuta.
Buku yang terdiri dari 192 halaman tersebut, disajikan
dalam 20 kasus, seputar problem pernikahan dan rumah tangga. Kasus-kasus
tersebut dipaparkan berbentuk cerita pendek. Dengan bahasa yang sederhana dan
alur cerita yang segar, pembaca disuguhi contoh kasus di dalam rumah tangga,
sekaligus solusi atau maknanya bagi penguatan kehadiran keluarga bahagia.
Dengan cara penguraian yang mengasikkan dan menghibur, buku tersebut layak
dibaca oleh siapa saja, yang menginginkan wawasan dalam bidang tersebut.
Menariknya juga, sebagaimana judul buku “Kata
Penghulu”, Penulis menempatkan dirinya ‘di dalam cerita’. Hal tersebut berarti,
dalam kasus pendaftaran pernikahan, contohnya, ia adalah pejabat yang
menerangkan atau memberikan informasi tentang pernikahan. Dalam kasus prosesi
akad nikah, ia adalah penghulu yang menangani pernikahan tersebut. Selanjutnya,
dalam kasus penasihatan rumah tangga, maka ia adalah seorang konselor.
Disadari bahwa dengan posisi Penulis seperti itu,
paparannya memang menjadi sangat subyektif. Namun demikian, disanalah letak
kekuatan buku tersebut. Di dalamnya ada problem, ada juga contoh solusinya.
Sebagai seorang Penghulu, Penulis mengalami bagaimana menghadapi masyarakat dan
memberikan solusi dari persoalan ummat, terutama menyangkut kepenghuluan
tersebut. Dari segi materi, buku tersebut dipetakan menjadi: persoalan seputar
pra-nikah (motivasi atau niat, syarat-rukun munakahat dan perundang-undangan),
proses (ijab-qobul, walimahan, dan sebagainya) dan Problem dalam kehidupan
berumah tangga (problematika membangun rumah tangga).
Dengan bahasa
yang popular, ulasan makna (meaning) diberikan oleh
Penulis dalam kerangka pemahaman bahwa pernikahan dan membangun rumah tangga
yang bahagia, sakinah mawaddah warahmah itu, berkaitan langsung dengan
permasalahan ideologis, hukum, sosial, dan lain-lain.
Karya inovatif
seorang Penghulu berupa tulisan, memang jarang ada. Itulah sebabnya, Kepala
Bidang Bimas Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali dan Kepala
Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar (ibu Komang Sri Marheni, S.Ag., M.Si.),
dalam kata pengantarnya di buku tersebut, menyampaikan apresiasinya, yang juga
diharapkan bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi yang lain.

